NGANJUK - Penguatan wawasan lingkungan sebagai spirit Gerakan kembali ke Alam menjadi agenda utama dalam pelatihan dan edukasi nutrisi tana...
NGANJUK - Penguatan wawasan lingkungan sebagai spirit Gerakan kembali ke Alam menjadi agenda utama dalam pelatihan dan edukasi nutrisi tanaman yang digelar SDN 1 Jatirejo Nganjuk, Sabtu, 18 Juli 2026.
Kepala Sekolah SDN 1 Jatirejo Nganjuk, Bapak Dukut, S.Pd dalam sambutan acara ini menegaskan kembali pentingnya semangat menjaga lingkungan. "Budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah harus terus dipertahankan, bukan sekedar mengejar penghargaan, melainkan harus menjadi tindakan yang nyata dan dapat berkontribusi dalam aksi tanggap perubahan iklim" ujarnya.
Salah satu aksi itu, lanjut Bpk Dukut, dalam dilakukan dengan mereduksi sampah organik lewat tata kelola Sampah dengan memanfaatkan limbah dedaunan untuk diolah menjadi kompos
BACA JUGA :
- SMADA Nganjuk Gelar Workshop Sampah dan Edukasi Nutrisi Organik
- Sekolah Adiwiyata, MIN 7 Nganjuk Gelar Workshop Nutrisi Organik
- MIN 3 Nganjuk, Gelar Edukasi Pengolahan Sampah Organik
Ditambahkannya, dalam kegiatan ini juga bertujuan untuk mewujudkan SDN 1 Jatirejo, Nganjuk agar dapat menjadi Sekolah dengan predikat Adiwiyata Mandiri - sebuah penghargaan bergengsi bagi institusi pendidikan yang telah berkontribusi dalam aksi peduli lingkungan.
BACA JUGA :
- IT Camp Pelestari : Edukasi GenZ dalam Literasi Melawan Perubahan Iklim
- Delegasi Pelestari Kawasan Wilis Lolos Kader Konservasi Alam tingkat Pemula
Sementara itu, Ketua Pelestari Kawasan Wilis, Tofan Ardi mengatakan pembinaan pengolahan sampah dan edukasi nutrisi tanaman yang disampaikan dapat memberikan perspektif "proklim" kepada peserta didik. Selama pelatihan berlangsung, para siswa diajak untuk mengenal kandungan nutrisi yang ada pada tanaman di sekitar sekolah
BACA JUGA :
- Perkawis Ajak Mahasiswa Ikut Aksi Lawan Perubahan Iklim
- Perkawis Gelar Pelatihan Nutrisi Organik Dorong Pertanian Rendah Emisi
"Spirit pengurangan sampah itu selaras dengan gerakan kembali ke alam, artinya saat kita hendak mengembalikan fungsi tanah, maka tidak perlu pupuk kimia. Cukup menggunakan kompos dari bahan dedaunan yang ada disekitar sekolah" ujarnya.

Langkah kecil pengolahan sampah organik ini, diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah organik, sehingga kedepan Sekolah mampu mengelola sampah secara mandiri . (*)

