NGANJUK - Di tengah krisis masalah sampah yang kini dihadapi Kab.Nganjuk, sebuah sekolah justru menunjukkan cerita berbeda. MIN 7 Nganjuk b...
NGANJUK - Di tengah krisis masalah sampah yang kini dihadapi Kab.Nganjuk, sebuah sekolah justru menunjukkan cerita berbeda. MIN 7 Nganjuk berhasil membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan pendidikan
Sekolah yang berada di Kec.Prambon ini menyabet predikat Adiwiyata tingkat Kabupaten, dan komitmen sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan aspek Lingkungan terus digelorakan. Hal ini nampak dari kegiatan pembinaan pengolahan sampah dan edukasi nutrisi tanaman yang digelar pada Kamis, 16 Juli 2026
Penyuluh Dinas Lingkungan Hidup Kab.Nganjuk, Junaidi Zain, S.T mengatakan pelatihan ini merupakan salah satu agenda strategis dalam rangkaian pembinaan dari DLH Nganjuk untuk memberikan pendampingan kepada sekolah penerima Adiwiyata di Kab. Nganjuk
BACA JUGA :
- SMADA Nganjuk Gelar Workshop Sampah dan Edukasi Nutrisi Organik
- MIN 3 Nganjuk, Gelar Edukasi Pengolahan Sampah Organik
- Sekolah Adiwiyata, MIN 7 Nganjuk Gelar Workshop Nutrisi Organik
Ditambahkannya, MIN 7 sebagai penerima Adiwiyata telah berhasil menerapkan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS). Hal ini selaras dengan filosofi penghargaan Adiwiyata yang berasal dari bahasa Sanskerta "Adi" (agung, ideal, sempurna) dan "Wiyata" (tempat belajar).
"Sejauh ini, MIN 7 telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang bersih, asri, dan berkelanjutan, dan hal ini harus terus dipertahankan" tandasnya
BACA JUGA :
- IT Camp Pelestari : Edukasi GenZ dalam Literasi Melawan Perubahan Iklim
- Delegasi Pelestari Kawasan Wilis Lolos Kader Konservasi Alam tingkat Pemula
Sementara itu, Ketua Pelestari Kawasan Wilis, Tofan Ardi mengatakan pembinaan pengolahan sampah dan edukasi nutrisi tanaman yang disampaikan dapat memberikan perspektif "proklim" kepada peserta didik. Selama pelatihan berlangsung, para siswa diajak untuk mengenal kandungan nutrisi yang ada pada tanaman di sekitar sekolah
BACA JUGA :
- Perkawis Ajak Mahasiswa Ikut Aksi Lawan Perubahan Iklim
- Perkawis Gelar Pelatihan Nutrisi Organik Dorong Pertanian Rendah Emisi
"Spirit pengurangan sampah itu selaras dengan gerakan kembali ke alam, artinya saat kita hendak mengembalikan fungsi tanah, maka tidak perlu pupuk kimia. Cukup menggunakan kompos dari bahan dedaunan yang ada disekitar sekolah" Ujarnya
Langkah kecil pengolahan sampah organik ini, diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah organik, sehingga kedepan Sekolah mampu mengelola sampah secara mandiri . (*)

